Selasa, 28 Februari 2012

Laporan Pendahuluan DHF

A. KONSEP MEDIK

  1. Definisi

- DHF (Dengue Haemorragic Fever)

Penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui nyamuk aedes aegypti (Demam Berdarah Dengue, Naskah Lengkap FKUI).

- DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti (Perawatan Pasien DHF, 1995).

  1. Anatomi dan Fisiologi

Darah adalah cairan di dalam pembuluh darah yang mempunyai fungsi sangat penting dalam tubuh yaitu fungsi transportasi (membawa nutrisi ke seluruh tubuh dan oksigen ke paru-paru kemudian diedarkan ke seluruh tubuh).

Darah mempunyai 2 komponen yaitu pada dan cair. Bagian padat terdiri dari eritrosit, leukosit dan trombosit. Komponen padat merupakan 45% dari seluruh volume darah dan 55 % adalah plasma yang termasuk komponen cair.

- Eritrosit

Eritrosit dibuat di sumsum tulang yang masih berinti, dalam pembentukannya dibutuhkan zat besi, Vit B12, asam folat, dan rantai globulin yang merupakan senyawa protein. Pematangan eritrosit diperlukan hormon eritropoetin yang diproduksi oleh ginjal. Umur peredarannya 105-120 hari. Eritrosit dihancurkan di limfa. Jumlah normalnya pada laki-laki 5,5 juta sel/mm3 pada perempuan 4,8 juta sel/mm3.

- Leukosit

Leukosit fungsi utamanya adalah sebagai pertahanan tubuh dengan cara menghancurkan antigen (kuman, virus, toksin) yang masuk. Ada 5 jenis leukosit yaitu: neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, dan monosit. Jumlah normal leukosit 5000-9000 /mm3.

- Trombosit

Trombosit merupakan keping-keping darah yang dibuat di sumsum tulang, paru-paru, limfa. Umur peredarannya hanya 10 hari. Trombosit mempunyai kemampuan untuk melakukan:

Ø Daya aglutinasi (membeku dan menggumpal)

Ø Daya adesi (saling melekat)

Ø Daya agregasi berkelompok)

Trombosit berfungsi sebagai pembekuan darah dan penghentian perdarahan, begitu pula kerusakan dinding pembuluh darah trombosit akan berkumpul di situ, dan menutup lubang kebocoran dengan saling melekat, berkelompok menggumpal dan kemudian dilanjutkan dengan proses pembekuan darah, jumlah trombosit 150.000-450.000 keping/mm3.

- Plasma darah

Plasma merupakan bagian yang encer tanpa sel-sel darah, berwarna kekuningan hampir 40% terdiri dari air. Struktur dinding kapiler tersusun atas 1 lapisan uniseluler sel-sel endotelial dan di sebelah luarnya dikelilingi membran dasar ada 2 jalan penghubung yaitu celah intraseluler yang merupakan celah tipis diantara sel-sel endotelial. Tiap celah ini diselingi sekelompok protein yang mengikat sel endotelial agar bersama-sama. Celah tersebut berada di tepi endotelial, pada sel endotelial terdapat juga banyak gelombang plasmalemal untuk menghambat paket plasma kecil/cairan ekstraselular.

Proses pemindahan dan cairan melalui difusi, zat-zat yang larut dalam lemak dapat berdifusi secara langsung melewati dinding endotelial kapiler, zat yang larut dalam lemak terutama O2 dan CO2. Zat yang larut dalam air hanya dapat berdifusi melalui pori-pori interseluler pada membran kapiler. Zat tersebut misalnya natrium, klorida dan ari itu sendiri.

Tekanan dalam kapiler cenderung mendorong cairan dan zat terlarutnya melewati pori-pori kapiler ke dalam ruang interstisial, sebaliknya tekanan osmotik yang ditimbulkan oleh protein plasma cenderung menimbulkan gerakan cairan osmosis dari ruang interstisial ke dalam darah. Tekanan osmotik ini mencegah hilangnya volume cairan yang cukup bermakna dari darah ke dalam ruang interstisial.

  1. Etiologi

Virus dengue yang ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk aedes aegypti, aedes albopictus dan aedes polinesiensis merupakan vektor yang kurang berperan.

  1. Patofisiologi

Virus dengue masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk aedes aegypti, berkembangnya virus dalam darah dapat menyebabkan viremia yang ditandai dengan demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh tubuh ruam pada kulit (petechie), hiperemia tenggorokan dan mungkin terjadi pembesaran kelenjar getah bening hepatomegali dan pembesaran limfe. Adanya ikatan virus, antibodi dalam sirkulasi, darah akan mengakibatkan trombosit menurun dan akan terjadi gangguan fungsi trombosit, kerusakan trombosit akan dimusnahkan oleh RES seperti pembesaran kelenjar getah bening, hati dan limfa mengakibatkan penurunan trombosit sehingga terjadi perdarahan.

Terdapatnya kompleks antibody dalam sirkulasi darah mengakibatkan terjadinya aktivasi faktor hagemen. Faktor VIII akan terjadi pelepasan zat anafilatoksin. Histamin dan serotonin yang merupakan mediator sebagai faktor meningkatkan permeabilitas pembuluh darah sehingga terjadi pemindahan plasma dari intravaskuler ke ekstravaskuler. Hal ini menyebabkan kurangnya volume plasma terjadi hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, serta efusi dan renjatan (syok). Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20%) menunjukkan atau menggambarkan adanya kebocoran plasma. Berkurangnya volume plasma mengakibatkan hipovolemik yang dapat berakibat, anoksia jaringan asidosis metabolik, dan syok yang menimbulkan kematian.

Gangguan hemeostatis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu perubahan vaskuler, trombositopenia dan gangguan koagulasi. Terjadinya trombositopenia karena trombosit mengalami kerusakan metamorfosis sehingga dimusnahkan oleh RES yang mengakibatkan trombositopenia hebat dan perdarahan, kelainan sistem koagulasi antara lain disebabkan oleh kerusakan hati.

  1. Tanda dan gejala

- Masa tunas 8-15 hari, pada umumnya 5-8 hari, gejala prodormal meliputi:

· Nyeri kepala

· Nyeri berbagai bagian tubuh

· Anoreksia

· Menggigil

· Malaise

- Pada umumnya ditemukan sindrom trias

· Demam tinggi

· Nyeri anggota badan

· Timbul ruam

- Ruam terdapat di dada, tubuh, abdomen dan menyebar ke anggota gerak

- Uji tourniquet (+), ptekie, purpura, ekimosis, perdarahan konjungtiva, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, melena, hematuri, hepatomegali

- Trombositopeni, Ht meningkat

- Shock kulit dingin, lembab, gelisah, nadi kecil, cepat lemah, TD rendah.

Kriteria WHO

Derajat I : demam, test rumpled (+)

Derajat II : derajat I ditambah perdarahan spontan

Derajat III : nadi cepat, lemah, hipotensi, akral dingin, gelisah

Derajat IV : shock, nadi tidak teraba, TD rendah

  1. Pemeriksaan Diagnostik

- Uji tourniquet

- Test laboratorium

· Trombositopeni

· Hemoglobin meningkat > 20%

· Hematokrit meningkat

· Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan: hipoproteinemia, hiponatremia, hipokalemia

- IgM hari ke-5 meningkat à hari kelima sampai 3 minggu, menghilang 60-90 hari.

- IgG mulai hari ke-14 pada infeksi sekunder hari ke-2.

- Radiologi: pada thorax foto didapatkan efusi pleura, terutama pada hemithorax kanan tetapi apabila terjadi pembesaran plasma hebat efusi pleura dijumpai pada kedua hemithorax.

  1. Penanganan Medik

- Tirah baring atau istirahat

- Diet makan lunak TKTP

- Pemberian obat antibiotik dan antipiretik

- Minum banyak (2-2,5 liter/24 jam) dapat berupa susu, teh manis, pemberian cairan merupakan hal yang penting bagi penderita DHF).

- Pemberian cairan intravena (ringer laktat, NaCl)

- Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika kondisi pasien memburuk observasi ketat tiap jam.

  1. Komplikasi

- Efusi pleura

- Cardiomegali

- Edema paru

- Gagal ginjal bila shock tidak teratasi

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

  1. Pengkajian

a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan

- Kebersihan lingkungan tempat tinggal

- Kebersihan tempat penampungan air

- Apakah ada yang terkena demam berdarah di keluarga dan tempat tinggal

b. Pola nutrisi metabolik

- Mual, muntah, anoreksia

- Kebiasaan makan sebelumnya

- Demam, bibir dan mukosa kering

- Kemampuan menghabiskan makan sebelumnya

c. Pola eliminasi

- Kebiasaan BAK dan BAB sebelumnya

- Abdomen tegang

- Melena

d. Pola aktivitas dan latihan

- Badan lemas

- Penurunan kemampuan beraktivitas

- Lemah, lesu

e. Pola tidur dan istirahat

- Gangguan tidur karena demam

- Gelisah

f. Pola persepsi sensori dan kognitif

- Nyeri otot, sendi, ulu hati

- Pusing, sakit kepala

g. Pola persepsi dan konsep diri

- Gangguan body image

- Kecemasan

h. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stres.

- Kecemasan

i. Pola peran dan hubungan sesama

- Peran dalam keluarga dan lingkungan

  1. Diagnosa Keperawatan

a. Risiko kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan metabolisme tubuh.

b. Hipertermi berhubungan dengan infeksi virus.

c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.

d. Risiko terjadinya perdarahan b.d penurunan trombosit.

e. Risiko shock hipovolemik berhubungan dengan perdarahan hebat.

f. Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.

  1. Perencanaan Keperawatan

a. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan perpindahan cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.

HYD: Cairan dan elektrolit dapat terpenuhi selama perawatan.

Rencana tindakan:

1) Observasi keadaan umum (turgor kulit, palpebrae)

R/ Identifikasi adanya kekurangan cairan.

2) Kaji TTV (suhu, nadi, TD) tiap 4 jam.

R/ Identifikasi adanya perubahan tanda-tanda vital.

3) Hitung balance cairan tiap 4-6 jam.

R/ Identifikasi kekurangan volume cairan.

4) Berikan minum 2-2,5 liter/24 jam.

R/ Memenuhi cairan yang hilang karena metabolisme tubuh.

5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian therapi cairan dan cek serum elektrolit.

R/ Membantu pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit.

b. Hipertermi berhubungan dengan infeksi virus.

HYD: Suhu tubuh dapat kembali normal selama 2-3 hari berturut-turut.

Rencana tindakan:

1) Observasi suhu tiap 3 jam.

R/ Mengidentifikasi adanya perubahan suhu.

2) Beri kompres hangat dan dingin bila suhu > 38oC.

R/Kompres dingin membantu mengkonduksi suhu ke dalam tubuh, kompres hangat memberi rasa nyaman dan mendilatasi sehingga suhu panas tubuh terevaporasi keluar.

3) Berikan minum 2-2,5 liter/24 jam bila tanpa kontraindikasi.

R/ Menggantikan cairan yang hilang karena metabolisme tubuh.

4) Anjurkan menggunakan pakaian tipis.

R/ Membantu proses evaporasi.

5) Anjurkan klien untuk membatasi aktivitas.

R/ Aktivitas berlebih meningkatkan metabolisme tubuh.

6) Kolaborasi medik untuk pemberian antipiretik.

R/ Pemberian antipiretik merangsang hipotalamus pada termostat untuk menurunkan panas.

c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.

HYD: Kebutuhan nutrisi terpenuhi ditandai dengan BB tidak turun, mual, muntah, tidak ada selama 3-5 hari perawatan.

Rencana tindakan:

1) Observasi keadaan umum (mual, muntah, anoreksia).

R/ Identifikasi adanya gangguan nutrisi.

2) Berikan makan porsi kecil tiap 3 jam.

R/ Mengurangi mual dan meningkatkan minat untuk makan.

3) Hidangkan makanan hangat dan menarik.

R/ Meningkatkan minat pasien untuk makan.

4) Libatkan keluarga untuk mensupport klien.

R/ Kehadiran dan dukungan keluarga meningkatkan motivasi klien.

5) Ajarkan teknik relaksasi.

R/ Teknik relaksasi menstimulasi hormon untuk menghambat mual.

6) Kolaborasi medik untuk pemberian anti muntah.

R/ Pemberian anti muntah merangsang hipotalamus untuk menghambat reaksi muntah.

d. Risiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan penurunan trombosit.

HYD: Tidak terjadi perdarahan dan jumlah trombosit meningkat selama 5 hari perawatan.

Rencana tindakan:

1) Observasi TTV dan keadaan umum.

R/ Untuk mengetahui secara dini perubahan tanda-tanda vital.

2) Observasi TT perdarahan (epistaksis, hematemesis, melena).

R/ Indikasi terjadinya perdarahan.

3) Anjurkan membatasi aktivitas.

R/ Aktivitas berlebih meningkatkan resiko perdarahan.

4) Jauhkan dari risiko trauma (berikan sikat gigi yang lembut, gunting kuku).

R/ Meminimalkan risiko perdarahan.

5) Perhatikan asupan nutrisi.

R/ Nutrisi mengandung zat-zat yang dibutuhkan bagi perbaikan permeabilitas kapiler.

6) Kolaborasi dokter untuk pemberian cairan infus anti perdarahan dan cek lab.

R/ Infus mengganti cairan melalui parenteral, cek lab mengetahui sejauh mana risiko perdarahan.

e. Risiko tinggi terjadi syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan hebat.

HYD: Tidak terjadi syok hipovolemik yang ditandai dengan TTV dalam batas normal, keadaan umum baik, selama 5 hari perawatan.

Rencana tindakan:

1) Kaji keadaan umum.

R/ Indikator perubahan status kesehatan klien.

2) Kaji tanda-tanda vital tiap 2 jam.

R/ Mengetahui secara dini tiap perubahan klien.

3) Kaji tanda-tanda perdarahan.

R/ Identifikasi sejauh mana akan terjadi syok.

4) Istirahatkan klien.

R/ Meminimalkan risiko terluka yang mengakibatkan perdarahan.

5) Catat intake dan output.

R/ Mempertahankan keseimbangan cairan.

6) Berikan transfusi sesuai dengan program dokter.

R/ Untuk mengganti volume darah serta komponen darah yang hilang.

f. Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.

HYD: Pasien dapat beraktivitas secara bertahap dalam waktu 3 hari perawatan.

Rencana tindakan:

1) Kaji keluhan pasien.

R/ Untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien.

2) Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan.

R/ Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh pasien terutama kondisinya lemah.

3) Mengkaji hal-hal yang mampu dan tidak mampu dilakukan oleh pasien.

R/ Untuk mengetahui tingkat ketergantungan pasien dalam memenuhi kebutuhannya.

4) Meletakkan barang-barang yang mudah terjangkau oleh pasien.

R/ Akan membantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya.

5) Dekatkan bel pada pasien.

R/ Agar pasien dapat segera meminta bantuan pada perawat bila pasien membutuhkannya.

  1. Perencanaan Pulang

a. Gerakan 3 M

- Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan air setiap minggu.

- Menutup rapat-rapat penampungan air.

- Mengubur/menyingkirkan barang bekas dan botol-botol pecah yang memungkinkan nyamuk bersarang.

b. Menggunakan insektisida dengan pengasapan atau pengabutan.

c. Dengan cara penggunaan temephos (abate) ialah dengan pasir abate ke dalam sarang-sarang nyamuk aedes yaitu bejana tempat penampungan air bersih.

d. Mencegah gigitan nyamuk dengan cara memakai obat gosok maupun pemakaian kelambu.

e. Kewaspadaan tanda DHF à lapor RT/RW.

A. Patoflowdiagram

Virus Dengue à Masuk dalam tubuh manusia

melalui gigitan nyamuk (aedes aegypti)






Demam

Sakit kepala

Nyeri otot

Mual, muntah



DP Hipertermi

Ggn rasa naman

Ketidakmampuan beraktivitas

Gangguan nutrisi



Viremia









DP

DP







Bereaksi dengan antibody




Syok








Dengue Shock Syndrome



- Nadi tidak teraba

- TD tidak dapat diukur

- Kulit dingin

DSS




Asidosis metabolik Anoksia jaringan




Kematian

DAFTAR PUSTAKA

Augustinus A.S (1998). Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia. STIK Sint. Carolus. Jakarta.

Christantie Effendy (1995). Perawatan Pasien DHF. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Guyon & Hall (1996). Text Book of Medical Physiologi. Ahli Bahasa Irawati Setiawan (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta. EGC.

Mansjoer Arif M (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FKUI. Jakarta.

Noer Sjaifoellah (1999). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1 Edisi 3 FKUI Jakarta.

Sri Rezeki. H. Hadinegoro (1999). Demam Berdarah Dengue. FKUI. Jakarta.

World Health Organization (1999). Dengue Haemorrhagic Fever. Diagnosis, treatment, Prevention and Control. Ahli Bahasa Monica Ester. Demam Berdarah Dengue: Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan dan Pengendalian. Jakarta EGC.